Selasa, 10 April 2012


 Abstrak
Kondisi dan pola dari cuaca atau iklim pada suatu tempat berbeda-beda, hal tersebut dikarenakan oleh perbedaan dari intensitas cahaya matahari yang diterima oleh permukaan bumi di seluruh bumi berbeda pula. Akibat dari perbedaan pola pemanasan tersebut terbentuklah daerah yang memiliki tekanan udara yang tinggi, biasanya ditandai dengan suhu yang rendah seperti kutub. Kemudian terbentuk juga daerah yang memiliki tekanan udara yang rendah dan biasanya memiliki suhu lebih tinggi karena berada pada daerah subtropik yang melewati garis khatulistiwa. Pembelajaran mengenai cuaca dan iklim sangat diperlukan dalam kehidupan manusia dan iklim juga berpengaruh terhadap proses pembentukan sedimen yang terjadi di daratan maupun di lautan.
Pembentukan dan pengikisan suatu sedimen dipengaruhi oleh beberapa faktor yang ditimbulkan oleh cuaca dan iklim pada suatu wilayah tertentu. Proses sedimentasi dapat terbentuk dengan bantuan media untuk memindahkan atau mentransport partikel-partikel sedimen yang ada di daratan maupun di lautan, media tersebut adalah angin,air,es dan gletser. Kompisisi atau asal dari partikel pembentuk sedimen juga berasal dari beberapa unsur antara lain pengikisan batuan (lithogenous), sisa-sisa rangka atau cangkang dari suatu organisme (biogenous), dan yang berasal dari golongan senyawa kimia yang terkandung didalam air (hydrogenous).
Pada dasarnya pola cuaca maupun iklim di suatu tempat sangat memengaruhi terhadap kondisi lapisan sedimen yang ada di tempat tersebut, apabila pada suatu daerah tertentu memiliki cuaca atau iklim yang ekstrim maka lapisan sedimen di tempat tersebut akan terkikis dengan kurun waktu yang singkat. Sedangkan pada daerah yang memiliki cuaca atau iklim yang normal maka akan terjadi proses sedimentasi atau penumpukan partikel-partikel sedimen dengan kurun waktu yang sangat panjang. Pada partikel sedimen yang terbawa oleh angin maupun air akan me. layang-layang terlebih dahulu pada kolom air laut dan waktu dari proses pengendapannya sangat bergantung pada sifat fisik dari partikel tersebut








                                                   BAB I
                                         PENDAHULUAN
1.1.        Latar  Belakang
Pada mata kuliah sedimentasi laut, dapat diketahui bahwa proses sedimentasi adalah proses dimana terjadinya endapan pada suatu unsur. Dalam bidang ini merujuk pada proses pengendapan lapisan tanah atau batuan. Dan ada juga pengaruh dari cuaca dan iklim pada suatu daerah yang menyebabkan terjadinya pengendapan atau proses sedimentasi dan pengikisan lapisan tanah atau batuan.
     Pembelajaran terhadap sedimentasi sangat diperlukan guna mengetahui umur dari suatu endapan atau sedimen dan untuk mengetahui jenis-jenis partikel sedimen yang ada di daratan maupun lautan. Iklim yang terjari di seluruh permukaan bumi juga sangat memengaruhi terhadap keadaan atau wilayah-wilayah tertentu, terutama pada proses sedimentasi. Karena iklim juga yang mempengaruhi curah hujan, tekanan udara atau angin, dan suhu/temperatur dari suatu area yang nantinya akan berpengaruh pada proses pengendapan sedimen atau pengikisan sedimen tergantung pada kondisi iklim di daerah-daerah tertentu.
1.2.        Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan artikel ilmiah ini adalah  sebagai berikut :
·         untuk memenuhi tugas mandiri mata kuliah sedimentologi laut,
·         sebagai referensi atau bahan bacaan untuk menambah wawasan mengenai iklim dan sedimentasi,
·         untuk mengetahui adanya keterkaitan diantara pola dari cuaca dan iklim terhadap proses pembentukan dan pengikisan dari suatu sedimen.











                                            BAB II
                                              ISI
2.1.  Cuaca,Iklim, dan Sedimentasi
     Pada kehidupan semua mahluk hidup sangat dipengaruhi oleh cuaca dan iklim khususnya pada kehidupan manusia. Hal tersebut dikarenakan setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari  unsur cuaca dan iklim, pada setiap bidang seperti maskapai penerbangan, armada laut, hingga petani dan nelayan sangat memerlukan keterangan atau data mengenai cuaca dan iklim supaya mereka dapat dengan baik melaksanakan kegiatannya masing-masing.
     Cuaca dan iklim juga sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan sedimen atau sedimentasi, karena cuaca dan iklim dapat mempengaruhi pembentukan endapan lapisan tanah atau batu hingga dapat menimbulkan pengikisan pada lapisan tanah tersebut apabila terjadi cuaca dan iklim yang ekstrim tergantung kepada pola cuaca dan iklim di suatu daerah tertentu.
Gambar 1. Keterkaitan iklim terhapad sedimentasi
httpharispramana53.files.wordpress.com201004ppospor.jpg

 Oleh karena itu pengertian cuaca, iklim dan sedimentasi perlu dipelajari untuk menambah wawasan mengenai unsur tersebut sekaligus untuk melihat keterkaitan antara bidang kajian tersebut. Cuaca pada suatu wilayah tertentu juga berpengaruh terhadap proses pengendapan sedimen yang ada di wilayah tersebut khususnya di lautan.
2.1.1.    Pengertian Cuaca
Cuaca merupakan suatu kondisi yang terjadi pada atmosfer bumi pada suatu tempat tertentu dengan jangka waktu yang pendek. Cuaca memiliki jangkauan wilayah yang relatif sempit dibandandingkan iklim dan biasanya selalu berubah-ubah setiap waktu. Dalam hal ini, kita bisa analogikan bahwa ada perubahan cuaca yang terjadi disekitar kita. Contoh sederhananya seperti cuaca yang terjadi pada pagi hari yang terasa sejuk, kemudian pada tengah hari terjadi peningkatan suhu karena adanya cahaya matahari sehingga sehingga menjadi lebih panas, kemudian terjadi lagi perubahan pada saat malam hari dengan adanya penurunan suhu disuatu wilayah tertentu sehingga lebih dingin. Bidang ilmu yang mempelajari cuaca adalah meteorologi.
Ada beberapa faktor pembentuk cuaca dan iklim disuatu wilayah, unsur-unsur tersebut antara lain :
a.    Temperatur atau Suhu (T),
b.    Kelembapan udara atau lengas udara,
c.    Curah hujan,
d.    Angin,
e.    Tekanan Udara, dan
f.      Intensitas cahaya matahari.
Unsur-unsur cuaca dan iklim tersebut  tersebut akan dijelaskan secara jelas dalam penjelasan berikut ini :
1.    Temperatur atau suhu udara
Temperatur atau suhu udara merupakan suatu keadaan dimana suatu wilayah mengalami panas atau suhu tinggi dan dingin atau suhu rendah dari udara pada waktu tertentu. Temperatur udara ini sangat dipengaruhi oleh intensitas atau banyak dan sedikitnya cahaya matahari yang diterima oleh suatu wilayah diseluruh belahan bumi manapun. Suhu udara ini dapat diukur dengan alat pengukur suhu yaitu termometer dengan satuan derajat. Skala ukur dari alat ini yang biasa digunakan antara lain derajat Reamur (R), derajat Celcius (C), dan derajat Fahrenheit (F). Dan ada juga alat pengukur suhu yang bekerja secara otomatis, alat tersebut adalah termograf dan hasil dari pengukurannya disebut dengan termogram.
2.    Kelembapan udara atau lengas udara
Kelembapan udara merupakan banyaknya air yang terkandung didalam udara. Kelembapan udara juga bisa disebut dengan tingkat kebasahan udara dan setiap daerah tertentu memiliki tingkat kelembapan udara yang berbeda-beda.
Ada beberapa kelembapan udara yang terjadi, diantaranya :
a.    Kelembapan absolut atau mutlak.
Jenis kelembapan ini merupakan massa uap air yang terkandung didalam udara adalah 1m3.
b.    Kelembapan relatif/nisbi
Jenis kelembapan ini meerupakan perbandingan antara jumlah dari uap air yang ada di udara dengan jumlah maksimum dari uap yang bisa dikandung oleh udara dengan satuan persen (%).
c.    Kelembapan Spesifik
Jenis kelembapan ini merupakan berat dari uap air per satuan berat udara denga satuan gram air per kilo gram udara.
3.    Curah hujan
Curah hujan merupakan titik-titik air dari hasil pengembunan uap air yang kemudian jatuh kebumi. Intensitas dari curah hujan ini dapat diukur dengan menggunakan suatu alat yang disebut dengan ombrometer.
4.    Angin
Menurut Hukum Buys Ballot dijelaskan bahwa angin merupakan udara yang bergerak dari suatu daerah yang memiliki tekanan udara tertinggi ke daerah yang memiliki tekanan udara terendah. Angin dapat diukur kecepatannya dengan menggunakan anemometer dengan satuan m/detik.
5.    Tekanan udara
Perlu diketahui meskipun udara tidak dapat dilihat, dicium maupun diraba, udara memiliki massa atau tenaga yang menekan bumi. Massa udara pada ketinggian 0 meter diatas permukaan laut adalah1.034 kg/cm2. Alat untuk mengukur tekanan udara sendiri adalah Barometer dengan satuan milibar (mb).
6.    Intensitas cahaya matahari
Intensitas cahaya matahari adalah penerimaan dari energi matahari yang diterima oleh bumi dalam bentuk sinar-sinar gelombang pendek yang masuk kebumi melewati atmosfer. Tetapi tidak seluruhnya sinar matahari diterima oleh bumi karena adanya proses absorbsi oleh atmosfer bumi. Alat yang digunakan untuk mengukur sinar matahari adalah solarimeter kipp dengan parameter sinar matahari yang dinyatakan dalam milivolt gram kalori/cm3.  
Gambar 2. Penyerapan cahaya matahari
httpulincool.files.wordpress.com200912482821180_45e62ebfdd1.jpg

2.1.2.    Pengertian Iklim
Iklim merupakan suatu keadaan rata-rata cuaca dari suatu wilayah dengan luas  dan memiliki perhitungan dalam jangka waktu yang panjang, antara 30 hingga 100 tahun. Bidang yang mempelajari tentang iklim adalah klimatologi. Sebagai mahasiswa ilmu kelautan, tentu saja bidang iklim yang dipelajari lebih mengarah pada iklim yang terjadi di lautan dan pengaruh dari iklim tersebut. Dan perlu diketahui juga bahwa iklim tergantung kepada hubungan kompleks yang terjadi antara daratan, lautan, dan atmosfer yang menyelubungi bumi. Seperti yang sudah dijelaskan pada subbab diatas bahwa ada faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya perubahan iklim di suatu wilayah tertentu, oleh karena itu pada subbab ini akan dijelaskan lebih terperinci mengenai tiga faktor utama yang mempengaruhi iklim, yaitu : suhu, curah hujan dan angin.
1.    Suhu dan perpindahan panas
Perlu diketahui bahwa daratan tidak memiliki kapasitas atau daya tampung yang sama seperti air dalam kemampuannya menyimpan panas dari cahaya matahari maupun aktivitas vulkanik, sehingga daratan akan lebih cepat menyerap panas saat menerima radiasi atau sinar matahari dibandingkan dengan lautan. Namun daratan juga akan lebih cepat dalam proses pendinginannya daripada lautan pada saat tidak ada insolation (proses pemanasan dari radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi). Sehingga mengakibatkan perbedaan suhu yang sangat besar apabila kita bandingkan dengan suhu yang ada di lautan. Kisaran suhu lautan antara -1.87°C (titik beku air laut) di daerah kutub hingga maksimum sekitar 42°C di daerah perairan dangkal. Lalu kisaran suhu pada daratan yang pernah tercatat adalah yang paling rendah di Siberia pada tahun 1892 dengan suhu -68°C dan yang tertinggi terdapat di Libya dengan 58°C pada tahun 1922.
Perpindahan panas juga terjadi diantara udara dengan lautan atau tanah yang terdapat dibawahnya sehinga menyebabkan kenaikan tekanan atmosfer yang terjadi pada area disekitarnya. Seperti yang telah dijelaskan pada subbab yang lalu, bahwa udara cenderung mengalir atau berhembus dari tekanan atmosfer yang tertinggi ke wilayah-wilayah yang memiliki tekanan atmosfer terendah. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya sistem angin utama di dunia. Tekanan udara di atas permukaan air akan naik apabila semakin tingginya daratan tersebut, sedangkan dibawah permukaan air, tekanan udara akan naik apabila kedalaman laut tersebut semakin dalam.
2.    Curah hujan dan siklus air
Sumber air yang ada dibumi terbagi 3 bagian, yaitu air yang berada didaratan,lautan dan atmosfer. Sebagian besar air ± 97.3% yang terdapat diseluruh permukaan bumi berasal dari gabungan lautan-lautan diseluruh dunia dan sisanya 2.7% berasal dari daratan, yang berupa gunung-gunung es di daerah kutub dan yang berasal dari mata air di bawah permukaan tanah, sungai dan danau. Sefangkan yang berasal dari atmosfer berkisar 0.01% dari seluruh air yang terdapat dibumi ini dalam bentuk uap air atau partikel-partikel kecil.
Meskipun jumlah air dalam atmosfer adalah jumlah yang terkecil, uap air tersebut sangatlah penting guna sebagai dasar dari pembentukan awan-awan hujan. Uap air terjadi karena hilangnya air dari lautan yang disebabkan oleh adanya penguapan dalam jumlah besar yang masuk kedalam atmosfer bumi dan terjadi secara seimbang dengan curah hujan melaui proses yang dikenal dengan anam Hydrolic cycle. Dari tetesan uap air tersebut maka akan berubah menjadi padatan (embun) yang akan diendapkan dan berubah menjadi tetesan yang lebih besar atau yang sering kita sebut sebagai hujan.
Secara garis besar siklus tata air (hydrologic cycle) terjadi secara seimbang, akan tetapi terkadang juga terdapat adanya perbedaan yang sangat besar antara proses penguapan dan curah hujan yang terjadi pada beberapa tempat di bumi sehingga terjadinya ketidakseimbangan dalam siklus tersebut.  
3.    Tekanan udara dan angin
Angin  terjadi karena adanya perbedaan antara tekanan udara yang merupakan hasil yang dipengaruhi oleh pemanasan sinar matahari yang tidak seimbang terhadap tempat-tempat yang berbeda yang berada dipermukaan bumi. Keadaan seperti ini berimbas pada naiknya sejumlah besar massa udara yang ditandai dengan sifat khusus yaitu adanya tekanan udara yang tinggi dan rendah. Massa udara yang bertekanan tinggi dibentuk pada daerah-daerah kutub sedangkan massa udara yang memiliki tekanan udara yang rendah terkumpul pada daerah subtropik. Tekanan udara ini juga akan mempengaruhi iklim setempat sehingga terjadi variasi-variasi iklim.
 Beberapa daerah siseluruh permukaan bumi akan terbagi menjadi beberapa bagian dimana setiap bagian tersebut memiliki daerah utama (tekanan rendah dan tekanan tinggi) tergantung kepada letak lintang. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya tiga sistem angin utama pada setiap hemisfer, sistem-sistem tersebut yaitu :
a.    Angin yang terletak diantara lintang 0° dan 30° yang dikenal sebagai Trade Winds. Sistem angin ini bertiup dari arah Timur ke Barat.
b.    Angin yang terletak diantara lintang 30° dan 60° yang bertiup dari arah Barat ke Timur.
c.    Angin yang terletak diantara daerah kutub (antara 60° hingga sampai ke kutub) yang pada umumnya bertiup dari arah Timur ke Barat.
2.1.3.    Pengertian Sedimentasi
Sedimentasi merupakan suatu proses terjadinya pengendapan dari material yang diangkut/ditransport oleh suatu media. Media tersebut adalah air, anging, es, atau gletser pada suatu cekungan. Sebagai contohnya adalah sebuah delta yang biasanya terdapat di mulut sungai merupakan hasil daripada proses pengendapan material-material yang berhasil diangkut oleh air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang biasa terdapat pada gurun-gurun dan pada tepian pantai merupakan hasil dari pengendapan dari material-material yang berhasil diangkut oleh angin.
Di lautan, seluruh permukaan dasar dari laut ditutupi oleh partikel-partikel sedimen yang telah diendapkan secara perlahan dan dengan jangka waktu berjuta-juta tahun. Ketebalan sedimen yang terdapat di banyak lautan di dunia secara relatif mempunyai variasi kedalaman yang berbeda-beda dari kisaran 600 meter di Lautan Pasifik, kemudian kisaran 500 meter hingga 1.000 meter di Lautan Atlantik. Lalu kisaaran 4.000 meter di Laut Arktik dan 9.000 meter Puerto Rico Trench. Berikut adalah metode yang digunakan untuk dapat mengklasifikasikan sedimen adalah dengan melihat asal dari komposisi atau pembentuk lapisan sedimen tersebut :
1.    Sedimen lithogenous
Jenis dari pembentukan lapisan sedimen ini berasal dari sisa-sisa pengikisan bebatuan yang ada di daratan. Pembentukan sedimen ini dapat terjadi karena adanya suatu kondisi fisik yang ekstrim pada iklim di daratan, contohnya bisa disebabkan oleh proses pemanasan dan pendinginan terhadap batu-batuan yang terjadi secara berulang-ulang pada daerah padang pasir, kemudian bisa juga karena adanya aksi dari bahan-bahan kimia yang terdapat di dalam air hujan atau air tanah terhadap permukaan batu dan bisa juga karena adanya embun-embun es di musim dingin.
Gambar 3 .Pengikisan batuan secara berulang-ulang akan merubah batuan padat menjadi pasir dikarenakan iklim yang ekstrim.
httpunik.supericsun.comwp-contentuploadsHLIC4a316ba884e96768b26a473f0fa4a55a.jpg

Partikel-partikel dari daratan tersebut tidak bisa berpindah sendiri dari daratan ke laut tanpa danya media, oleh karena itu biasanya partikel-partikel batuan tersebut diangkut dari daratan ke lautan oleh sungai-sungai dari hulu sungai hingga ke mulut sungai yang mengarah ke laut dengan proses transport yang sangat lama. Begitu sedimen mencapai lautan, maka penyebaran partikel-partikel tersebut ditentukan oleh sifat fisik dari partikel itu sendiri, khususnya karena lamanya partikel itu tinggal dan melayang-layang pada kolom air laut.
2.    Sedimen biogenous
Jenis dari pembentukan lapisan sedimen ini berasal dari sisa-sisa rangka dari organisme yang telah mati maupun sisa-sisa cangkang yang ditinggalkan. Partikel-partikel tersebut akan membentuk endapan halus yang dinamakan ooze dan biasanya mengendap pada daerah-daerah yang letaknya jauh dari pantai. Sisa-sisa dari proses metabolisme organisme juga dapat menjadi partikel penyusun dari lapisan sedimen.
Gambar 4. Partikel sedimen dari sisa organisme
httprovicky.files.wordpress.com200802minyak-2.jpg

3.    Sedimen hydrogenous
Jenis dari pembentukan lapisan sedimen golongan ini terbentuk dari hasil reaksi kimia yang terjadi didalam laut. Kita dapat mengambil contoh pada manganese nodules (bungkahan-bungkahan mangan) yang berasal dari endapan lapisan oksida dan hidroksida dari besi dan mangan yang terdapat dalam sebuah rangkaian dari lapisan konsentris di sekitar pecahan batu atau reruntuhan puing-puing.
BAB III
    KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil pada materi diatas adalah sebagai berikut :
1.    Cuaca dan iklim sangat berpengaruh terhadap segala bidang dalam kehidupan manusia dan juga sangat berpengaruh pada terbentuknya sedimentasi yang ada di daratan maupun di dasar laut.
2.    Cuaca dan iklim yang ekstrim di suatu wilayah tertentu sangat berakibat terhadap proses pengikisan lapisan sedimen di area tersebut sehingga terjadi banyak kerusakan lapisan sedimen atau bebatuan di area tertentu.
3.    Proses sedimentasi dapat terjadi karena adanya faktor-faktor yang memengaruhinya yaitu angin atau udara, air,es, dan gletser sehingga terjadi transport partikel-partikel yang berasal dari daratan ke laut. Prosen lain juga berasal dari sisa dari rangka organisme dan proses senyawa-senyawa kimia yang terdapat didalam air laut.
4.    Angin yang membawa partikel-partikel sedimen akan bertiup dari kutub karena tempat tersebut memiliki tekanan udara yang tinggi lalu akan terkumpul pada daerah subtropik yang memiliki tekanan udarah yang rendah, oleh karena itu partikel sedimen akan lebih banyak terbentuk pada daerah-daerak yang memiliki iklim panas karena berada pada daerah subtropik atau dekat dengan garis khatulistiwa.


DAFTAR PUSTAKA
Hutabarat, Sahala dan Evan, S.M. 2008. Pengantar Oseanografi. Jakkarta :   Penerbit  Universitas Indonesia.
Tim Abdi Guru, 2004. Geografi Untuk SMP Kelas VII. Jakarta : Erlangga.
 Anonim. Sedimentasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sedimentasi. Diakses Pada  Tanggal 23 Maret 2011 Pukul 20.48.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar